Di Ujung Tahun, Kami Pulang kepada Bapak
Ziarah sunyi anak-anak kepada bapak
Besok, 31 Desember 2025.
Hari terakhir di tahun 2025.
Bagi orang Batak, ini bukan sekadar penutup kalender. Ia adalah ruang hening untuk mengingat—momen sakral untuk menundukkan kepala, menghormati orangtua dan keluarga yang telah lebih dahulu menghadap Tuhan.
Sejak pagi, bahkan sebelum matahari naik tinggi di atas kepala, keluarga Batak meluangkan waktu khusus untuk datang ke makam orangtua dan sanak saudara
. Bukan karena kewajiban semata, melainkan karena rasa hormat, cinta, dan ingatan yang tak pernah usang oleh waktu.
Di saat-saat seperti ini, lagu “Makuling Giring-Giring” kerap terdengar lirih. Nada dan liriknya membawa hati hanyut dalam kenangan—tentang kasih yang pernah ada, doa yang tak pernah putus, dan rindu yang akhirnya hanya bisa diserahkan kepada Tuhan.
Tak jarang, sendu dan tangis pun hadir.
Bukan sebagai tanda kelemahan, tetapi sebagai bukti bahwa cinta kepada orangtua tidak pernah benar-benar pergi.
Aku masih mengingatnya dengan kuat.
Lagu Makuling Giring-Giring versi Eddy Silitonga kerap diputar mendiang bapak dalam banyak momen sederhana: saat makan siang bersama, atau di malam hari setelah makan malam.
Itu adalah masa-masa awal VCD. Saya tak pernah benar-benar tahu mengapa bapak begitu ingin mengulang-ulang lagu ini.
Mungkin ada makna yang belum sempat ia ucapkan. Atau mungkin, lagu itu adalah caranya berdamai dengan waktu.
Bahkan siang itu—sepulang mengajar, setelah makan siang bersama—sehari sebelum ia menutup mata, lagu itu masih sempat diputarnya.
Dan kini, setiap kali lagu itu kembali terdengar, saya tahu: ada cinta yang memilih tinggal dalam kenangan, agar tak pernah benar-benar pergi.
Dalam iman Katolik yang kuimani, saya percaya bahwa bapakku, Somba Felix Malau, kini telah bersama para Malaikat dan Orang Kudus di Surga. Iman yang sama pula yang menguatkan kami sekeluarga bahwa dari Surga,
cinta bapak tetap hadir dan kami rasakan—karena ia tak henti-hentinya mendoakan kami, keluarganya yang masih berziarah di dunia.
4 April 2002: Hari Ketika Dunia Berubah
Tanggal itu, 4 April 2002.
Hari ketika bapak, menutup mata.
Saya masih mengingatnya.
Waktu kemudian berjalan. Hari berganti bulan, bulan menjadi tahun. Pelan-pelan, hidup mengajarkanku cara berdamai dengan ketidakhadiran.
Bukan dengan melupakan, melainkan dengan membiarkan kenangan menemukan tempatnya sendiri.
Kini, 31 Desember 2025. Dua puluh tiga tahun telah berlalu.
Saya berdiri di akhir tahun dengan tubuh yang lebih tua, pikiran yang lebih penuh, dan hidup yang telah menempuh begitu banyak persimpangan.
Namun ada satu hal yang tak berubah:
cara kepergian bapak terus membentuk caraku memandang hidup.
Saya menyadari, kehilangan tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berubah rupa. Kadang menjadi doa yang lebih panjang. Kadang menjadi lagu lama yang tiba-tiba terdengar lebih dalam dari biasanya. Kadang menjadi diam yang justru terasa paling ramai.
Jika dulu, pada 4 April 2002, Saya belajar tentang perpisahan, maka pada 31 Desember 2025 ini Saya belajar tentang kesetiaan ingatan.
Bahwa mencintai orangtua tidak berhenti ketika mereka dimakamkan. Ia justru menemukan bentuk barunya—dalam doa, dalam ziarah, dalam cara kita hidup, dan dalam keberanian untuk tetap percaya bahwa kasih tidak berakhir di kubur.
Malam nanti, tahun akan berganti.
Masa-masa ini dulu sangat dinanti, kini justru menjadi kenangan.
Pada malam-malam pergantian tahun, ketika bapak masih bersama kami,
ia jarang berbicara panjang.
Namun setiap kata yang keluar darinya selalu tinggal lebih lama daripada suara kembang api.
Saya masih mengingat bagaimana ia memandang kami satu per satu,
lalu berkata pelan, seolah ingin memastikan kata-katanya benar-benar sampai:
“Kompak-kompak kalian, anakku.”
Bagi bapak, kekuatan keluarga bukan pada siapa yang paling menonjol,
melainkan pada kemampuan untuk tetap berdiri bersama, terutama ketika keadaan tidak ramah.
Ia juga selalu mengingatkan, dengan nada yang tegas namun penuh kasih agar kami tidak pernah sombong.
“Jangan pernah sesekali sombong,” katanya, "karena kita tidak pernah diciptakan untuk sombong.”
Baginya, kesombongan adalah jarak—
dan keluarga hanya bisa bertahan jika jarak itu tidak dibiarkan tumbuh.
Tentang harta, bapak punya cara pandang yang sederhana namun dalam.
“Jangan pernah menjadikan kekayaan untuk mengukur apa pun,” katanya.
“Ingat, keluarga adalah harta terbesar yang kita punya.”
Kalimat itu kini terasa semakin benar,
terutama setelah saya memahami betapa mahalnya kehilangan.
Ia juga selalu menanamkan kesadaran iman dalam setiap harapan kami.
“Ingat,” katanya,
“kesuksesanmu kelak bukan seratus persen karena kekuatanmu sendiri,
melainkan karena kebaikan Tuhan dan doa banyak keluarga kita.”
Bapak ingin kami tumbuh dengan percaya diri, namun tetap sadar bahwa hidup tidak pernah kita menangkan sendirian.
Ada satu nasihat yang selalu ia ulang,
ketika berbicara tentang tanggung jawab di antara saudara:
“Siapa pun di antara kalian yang nanti lebih kuat, jangan pernah mengeluh dalam membantu saudara dan keluargamu.”
Baginya, kekuatan bukan untuk menjauh,
melainkan untuk menopang.
Bapak juga tak pernah lupa mengingatkan kami pada akar.
“Kalau ada rezeki kelak, jangan lupa bonapasogit.”
Pulang, menurut bapak,
bukan sekedar kembali ke tempat, melainkan tentang kesediaan untuk mengingat dari mana kita berasal.
Dan nasihat terakhir itu, selalu ia ucapkan dengan suara yang lebih pelan,
namun justru paling keras tinggal di hatiku:
“Jangan sesekali kalian tidak menghormati orangtuamu,
juga orang-orang yang lebih tua dari kalian.”
Ia menutupnya dengan kalimat yang dulu mungkin terasa berat, namun kini kupahami sepenuhnya:
“Kalau kalian tidak menghormati orangtua, tak ada artinya hidupmu—meskipun berlimpah harta, jabatan, dan apa pun yang kamu miliki.”
Kini, di ujung tahun 2025,
dua puluh tiga tahun setelah 4 April 2002, saya menyadari bahwa bapak tidak hanya meninggalkan kenangan,
melainkan kompas hidup.
Poda-podanya tidak pernah ikut dimakamkan. Ia hidup dalam cara kami bersaudara, dalam keputusan-keputusan kecil yang kami ambil, dan dalam doa-doa yang kami panjatkan diam-diam.
Mungkin inilah cara seorang bapak tetap tinggal bersama anak-anaknya:
melalui nasihat yang terus bekerja bahkan ketika suaranya telah lama berpulang ke surga.
Tulisan ini saya tutup di ujung tahun, bersama satu kenangan yang datang sekejap dalam mimpi—
disertai air mata yang jatuh tanpa suara.
Catatan akhir tahun anak Sibitonga
Srihandriatmo Malau (Pa Deus)
Pondok Gede, 30 Desember 2025
Komentar