Ada Dia di Antara Kita - Kisah Cinta & Panggilan Tuhan
Ada Dia di Antara Kita - Kisah Cinta & Panggilan Tuhan
Ketika cinta harus berhenti, bukan karena habis, tetapi karena Tuhan memanggil lebih dulu menjadi gembala umat
(Foto: Ilustrasi gereja dan bangku kosong, melambangkan keheningan cinta dan panggilan iman dalam kisah Ada Dia di Antara Kita. (Ilustrasi: AI Gemini)
Undangan itu datang sederhana. Tidak panjang, tidak pula menjelaskan banyak hal. Hanya ajakan untuk hadir pada sebuah acara yang kau sebut penting. Namamu tertera sebagai pengirimnya—nama yang dulu paling sering kupanggil tanpa ragu, lalu perlahan kupelajari untuk kusebut dengan hati-hati.
Aku membaca pesan itu berulang kali. Tidak bertanya lebih jauh. Ada firasat yang enggan diberi nama. Malam pun turun, dan seperti biasa, aku membiarkan diriku sendiri, demi membuang rasa rindu yang selalu menggoda bila sunyi datang tanpa permisi. Di saat-saat sepi begini, bayangan wajahmu tak pernah benar-benar pergi.
Undangan itu melompatkanku ke masa lalu.
Dulu, kita memadu kasih tanpa banyak tanya pada arah. Kita percaya cinta cukup untuk menjawab segalanya. Kita berbagi malam, rencana, dan harapan yang tumbuh terlalu cepat. Namun di balik kebersamaan itu, ada jarak yang pelan-pelan hadir. Setiap kali kita tak bersama, ada rasa curiga yang sulit kujelaskan—bukan curiga pada hatimu, melainkan pada takdir. Ingin rasanya dekat denganmu. Ingin rasanya memilikimu sepenuhnya.
Hingga suatu hari kau memilih jalan yang tak bisa kutempuh bersamamu. Kau tidak menjelaskannya dengan panjang lebar. Kau hanya mengatakan ada panggilan yang harus kaujawab. Dan aku belajar menerima bahwa cinta tidak selalu menang melawan keyakinan.
Aku datang ke acara itu dengan langkah ragu. Ruangannya hening, penuh wajah-wajah yang khidmat. Barulah di sana aku mengerti makna undangan yang kau kirim. Kau berdiri di depan, mengenakan jubah yang mengubah segalanya. Di saat itu, semua pertanyaanku menemukan bentuknya sendiri.
Aku melihatmu dari kejauhan. Banyak tangan terulur, banyak ucapan selamat mengalir. Aku ingin mendekat, tapi kakiku tertahan. Ada takut yang tak berani kuucapkan: takut bersalaman, takut mengucapkan selamat, takut hatiku berdosa karena rasa yang belum sepenuhnya mati.
Bayangan wajahmu tak kulupakan, bahkan
ketika aku menunduk, berpura-pura sibuk dengan pikiranku sendiri.
Mengapa kau tercipta bukan untukku?
Mengapa baru kini kita bertemu?
Aku pulang hari itu tanpa menyapamu. Membawa rindu yang tak lagi punya tempat untuk kembali.
Waktu berjalan, dan jarak mengajarkanku keberanian yang berbeda. Ketika kabar misa perdanamu di kampung halaman kita sampai ke telingaku, aku tahu ini saatnya. Bukan untuk berharap, bukan untuk mengulang masa lalu, tapi untuk berdamai.
Aku datang sebagai umat. Duduk di bangku gereja, mendengar suaramu memimpin doa di tanah yang dulu menyimpan begitu banyak cerita kita. Kali ini aku tidak bersembunyi dari perasaanku. Aku membiarkannya hadir, lalu melepasnya pelan-pelan.
Misa itu berakhir tanpa gegap gempita. Umat berdiri dan bergerak perlahan. Kali ini aku tidak pergi. Aku melangkah mendekat. Kau menoleh. Wajahmu sama, hanya ketenangannya kini berbeda.
“Selamat,” kataku lirih.
Kau tersenyum, lalu memberkati kepalaku. Aku memberanikan diri memohon, “Doakan aku.”
Aku merasakan sentuhan tanganmu—tangan yang kini terberkati. Dalam diam, aku memanjatkan doaku sendiri: semoga kau setia pada panggilan Tuhan, menjadi gembala umat-Nya hingga akhir hidupmu.
Aku melangkah pergi dengan hati yang ringan. Tidak ada lagi pertanyaan mengapa. Tidak ada lagi keinginan memiliki.
Hanya satu kalimat yang akhirnya berani kuucapkan, sepenuh hati:
Terima kasih pernah hadir di hatiku.
Catatan:
Kisah ini berakar dari pengalaman seorang teman seprofesi yang baru saja
menghadiri pentahbisan dan misa perdana—sebuah peristiwa yang meninggalkan
hening panjang serta renungan tentang cinta, panggilan, dan keikhlasan. Hingga
kini, ia memilih tetap hidup sendiri di Jakarta, menjaga jarak dari hiruk-pikuk
harapan yang pernah tumbuh.
Kata-kata dalam kisah ini menemukan jalannya ketika lagu “Ada Dia di Antara Kita”, ciptaan dan dipopulerkan oleh Obbie Messakh, hadir kembali—menyusup pelan, membangkitkan ingatan, dan menuntun perasaan untuk bercerita.

Komentar