Kata Seorang Pria Tua Berusia 70 Tahun: Jangan Ulangi Kesalahanku

Kata Seorang Pria Tua Berusia 70 Tahun: Jangan Ulangi Kesalahanku

"Kata-Katamu Akan Pulang Kepadamu"

 

(FOTO Gemini ai: Terinspirasi dari perjumpaan di Jakarta, 1 April 2026)

 

Jangan sakiti sesamamu.
Karena kamu tidak pernah benar-benar tahu
seberapa dalam luka yang sedang ia sembunyikan.

Jangan rendahkan mereka yang hari ini terlihat kecil.
Sebab hidup punya cara yang sunyi
untuk membalikkan keadaan… tanpa peringatan.

Jangan terlalu mudah tersenyum sinis,
melontarkan umpatan,
atau merasa dirimu lebih tinggi dari mereka.

Karena setiap kata yang pernah kamu lepaskan—
tidak pernah benar-benar hilang.
Ia tinggal… diam…
menunggu waktunya kembali.

Ingatlah ini baik-baik: hukum tabur tuai.

Bukan sekadar kata-kata.
Ini adalah cara hidup bekerja—
diam, pasti, dan tak pernah salah alamat.

Apa yang kamu tabur hari ini,
entah itu kebaikan… atau luka,
akan kembali kepadamu—
dalam waktu yang mungkin tidak kamu duga,
dengan cara yang mungkin tidak kamu siap terima.

“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan.
Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.”
(Galatia 6:7)

“Hidup dan mati dikuasai lidah,
siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”
(Amsal 18:21)

Jangan pernah lupa.
Jangan pernah merasa kebal.

Karena hidup tidak memilih siapa pun untuk dikecualikan.

Jika kamu tak mampu mengangkat,
setidaknya jangan menjatuhkan.

Jika tak bisa memberi banyak,
setidaknya berilah hormat.

Karena pada akhirnya,
kamu tidak sedang berhadapan dengan orang lain—
kamu sedang menanam masa depanmu sendiri.

Hari ini, seorang pria tua berusia 70 tahun berkata mengingatkanku dengan suara gemetar,
“Dulu… aku pernah berada di puncak.”

“Aku punya karier, pangkat, dan kekuasaan.
Aku dihormati, ditakuti, dan dikelilingi banyak orang.
Harta ada, nama dikenal,
dan aku pikir semua itu akan selalu ada.”

Ia terdiam, matanya kosong,
“Entah ke mana semua itu sekarang…”

“Aku kehilangan satu per satu.
Bukan hanya jabatan,
tetapi juga orang-orang yang dulu dekat.”

Ia menarik napas panjang,
“Yang tersisa hari ini bukan kebanggaan…
melainkan ingatan tentang bagaimana aku pernah memperlakukan orang lain.”

Suaranya melemah,
“Kesombongan membuatku merasa tinggi.
Ucapanku melukai banyak hati,
dan aku menganggap itu hal biasa.”

Ia menunduk dalam,
“Sekarang… semua itu kembali.
Bukan dalam bentuk kata,
tetapi dalam kesepian yang pelan-pelan menghabisiku.”

Ia berbisik, hampir tak terdengar,
“Jangan ulangi kesalahanku.
Apa yang kita tanam… benar-benar akan kita tuai.”

Jangan tunggu sampai kamu merasakan.
Ingat hukum tabur tuai—
sebelum hidup mengingatkanmu dengan cara yang paling menyakitkan.

 

 

Terinspirasi dari perjumpaan dan percakapan singkat di pom bensin.

Jakarta, Rabu (1/4/2026) dini hari

 

Andri Malau 

Terima kasih, Pak Tua… atas kisah dan pesanmu
Teriring hormat dan doa untukmu selalu

 

#KisahInspiratif #SelfReflection #HukumTaburTuai #KarmaItuNyata #Penyesalan #MotivasiHidup #KataBijak #PelajaranHidup #Jakarta #KisahNyata  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malau Raja atau Silau Raja???

siapa yg tertua antara Lubis dgn Pasaribu?/