Katedral di Balik Dinding Kontrakan (Refleksi Perjalanan Jiwa 1983–2026)

Katedral di Balik Dinding Kontrakan

Refleksi Perjalanan Jiwa (1983–2026)





DEDIKASI


Tulisan ini kupersembahkan untuk:

SF. Malau
Bapak tercinta, yang kepergiannya pada 4 April 2002 menjadi kado kedewasaan pertamaku.

Briptu Anumerta Srihandri Kusumo Malau
Adikku, yang pengabdian dan keteguhannya akan selalu hidup dalam ingatan sejak 4 Maret 2010.

Omak Naburju, Opung Monang
Surgaku di bumi, yang detak jantungnya adalah irama doa yang kujaga dengan segenap cinta.

Dan untuk istriku yang setia, Rentina br Manihuruk, serta anakku, Amadeus Hatorangan Malau,
Alasanku untuk terus pulang, bertahan, dan tetap lembut di tengah riuh dunia.

 

(FOTO: ILUSTRASI Tentang Inti Isi Kisahku ini melalui Gemini ai)

 

Katedral di Balik Dinding Kontrakan

Aku sudah berjalan sejauh ini…
Empat puluh tiga tahun sejak aku pertama kali menghirup napas dunia pada Minggu Paskah, 3 April 1983. Semesta telah membawaku melintasi gurun kesunyian biara hingga lembah air mata yang tak pernah kubayangkan.

Aku lahir sebagai anak kedua dari lima bersaudara, tumbuh dalam riuh rendah kedisiplinan dan kasih sayang di Banda Aceh. Akar hidupku tertanam dari ketulusan seorang bapak, SF. Malau, pendidik yang mengabdikan hidupnya di sekolah Katolik, dan ketegaran seorang mamak yang—meski bangku Sekolah Dasar saja tak sempat ia lalui hingga lulus—memiliki kearifan hati yang melampaui gelar akademik mana pun.

Di rumah itu, aku menyaksikan sebuah teologi yang paling murni: bahwa kedekatan dengan Sang Pencipta tidak diukur dari lembar ijazah yang kita miliki. Mamak adalah altar pertamaku, guru yang mengajariku tanpa buku, menunjukkan bahwa iman tidak butuh gelar untuk menjadi nyata, ia hanya butuh ketulusan untuk tetap menyala.

Aku tidak pernah sendirian. Aku dibentuk oleh kebersamaan dengan saudara-saudaraku. Ada abangku, Hendricus Sricardo Malau (Pak Monang), yang sebagai anak sulung menjadi kompas pertama bagi kami. Lalu aku, diikuti oleh adik-adikku: Srihandri Kusumo Malau, Welliwanto Malau (Pak Gio), dan si bungsu, ito-ku tersayang Sri Hardianti Margaretta Malau. Kami adalah lima denyut jantung yang belajar mengeja kerasnya hidup.

Ziarah panggilanku bermula di Seminari Menengah Christus Sacerdos, Pematang Siantar. Langkahku berlanjut ke keheningan Novisiat di Batu, hingga menimba ilmu teologi di Seminari Tinggi di Malang. Aku mencari Tuhan dalam jubah yang rapi, mengira bahwa semakin jauh aku dari dunia, semakin dekat aku dengan Surga. Namun, Tuhan memiliki cara yang lebih "membumi" untuk mendewasakanku.

Tepat sehari setelah ulang tahunku yang ke-19, pada 4 April 2002, aku menerima kado terberat: kepergian Bapak tercinta. Luka itu belum pulih ketika tahun 2008, aku memutuskan keluar dari biara dan terjun ke pelukan Jakarta yang gersang. Dua tahun kemudian, maut kembali menyapa melalui kepulangan adik ketigaku, Briptu Anumerta Srihandri Kusumo Malau, pada 4 Maret 2010. Kepergiannya adalah lubang besar di hati kami bersaudara, namun sekaligus pengingat bahwa hidup adalah tentang pengabdian. Di tengah puing duka itu, Tuhan merajut harapan baru melalui pernikahan dengan Rentina br Manihuruk pada 23 Januari 2016.

Hanya tiga bulan setelah janji suci itu, pada 5 April 2016, saat meliput di Gedung DPR RI, jantungku terhenti oleh serangan hebat. Kondisiku kritis. Tim medis menemukan dua penyumbatan parah: satu pembuluh darah tersumbat total (100%) dan sisi lainnya 90%. Di ambang ajal, di dalam ambulans yang meraung membelah kemacetan Jakarta, aku memilih hidup demi istri dan Mamak. Tindakan pemasangan ring dilakukan segera sebagai pertaruhan terakhir.

Saat pertama kali aku tersadar di ruang ICU yang dingin, hal pertama yang kutangkap bukanlah cahaya lampu, melainkan sosok istriku, Rentina. Di balik kaca dan peralatan medis yang mengepungku, aku melihatnya sedang menangis. Namun, begitu ia menyadari mataku terbuka, dengan gerakan cepat yang gemetar, ia segera menyeka air matanya. Ia berusaha menghapus jejak duka itu seolah-olah tak ingin aku melihat setitik pun kerapuhan di wajahnya. Di titik itulah aku menyadari bahwa cinta yang paling murni seringkali mewujud dalam upaya menyembunyikan luka demi menguatkan mereka yang dicintai. Dalam diamnya yang mencoba tegar, aku melihat wajah Tuhan yang paling nyata.

Namun, perjuangan itu tidak berhenti di sana. Tahun-tahun berikutnya adalah pergulatan yang mengiris kalbu. Di saat istriku sedang hamil muda, jantungku justru berkali-kali "berkhianat". Entah sudah berapa kali serangan—kecil maupun hebat—kembali menghujam dadaku setiap kali kelelahan mengejar berita di ibu kota. Ada momen-momen yang terasa begitu menyesakkan: di saat Amadeus masih dalam kandungan, berjuang untuk tumbuh, aku justru harus terbaring lemah di rumah sakit untuk beberapa hari perawatan.

Pedih rasanya, ketika seorang suami seharusnya menjadi sandaran bagi istrinya yang tengah mengandung, aku malah menjadi sosok yang harus ditopang. Di bangsal rumah sakit yang dingin, aku hanya bisa menatap perut istriku yang kian membesar dalam diam. Tidak ada kata-kata, hanya detak jantung yang tertatih, mencoba menyelaraskan ritmenya dengan denyut kehidupan kecil yang sedang tumbuh di rahim istriku. Di titik itu, aku sadar bahwa bertahan hidup adalah satu-satunya cara untuk mencintai mereka.

Cinta istri dan anakku seolah menjadi “ring spiritual” yang menjaga jantungku tetap terbuka, membuatku tak merasakan lelah saat harus kembali bertarung mencari nafkah di kerasnya Jakarta. Mujizat itu mewujud nyata pada 22 April 2017, pukul 20.55 WIB, saat Amadeus Hatorangan Malau lahir (3400 gram/50 cm). Kehadirannya menjelaskan segalanya: bahwa setiap detik rasa sakit yang kulewati adalah harga yang layak dibayar untuk sebuah kehidupan.

Kini, di rumah kontrakan kecil kami, terutama saat merawat Mamak yang jantungnya mulai melemah di medio 2025-2026, aku menemukan katedral yang sesungguhnya. Jika dulu di biara aku mencium altar, kini di kontrakan aku mencium tangan Mamak yang keriput. Saat Mamak bertanya dengan suara parau: "Kek mananya nanti tangismu anakku, kalau Mamak pergi?", aku menggenggam tangannya erat. Di situ aku mengerti bahwa tugas imamatku yang sesungguhnya adalah menjadi sandaran bagi mereka yang kucintai, hingga napas terakhir.

Tahun ini, 2026, aku genap berusia empat puluh tiga tahun. Sebuah angka sakral karena ulang tahunku jatuh tepat pada Jumat Agung. Lahir di Minggu Paskah dan merayakan usia ke-43 di Jumat Agung seolah merangkum seluruh ziarah batinku: dari kebangkitan, melewati pengorbanan, dan kembali menemukan makna di bawah kaki salib hidupku sendiri—di balik dinding kontrakan.

Dulu, aku bertanya: "Tuhan, di mana terang-Mu?" Tuhan menjawabnya melalui Amadeus (Cinta Tuhan) dan Hatorangan (Terang). Kehadirannya menjelaskan bahwa setiap luka—termasuk ring di jantungku—adalah jalan bagi cahaya-Nya untuk masuk.

    "Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita... karena kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan."
    (Roma 5:3–4)

Hidup "biasa saja" di rumah kontrakan, dengan cinta yang tulus, adalah keberanian paling murni. Aku berhenti memaksakan diri menjadi orang lain. Karena ternyata, Katedral terindah seringkali tersembunyi di balik dinding kontrakan yang sempit, tempat cinta tak pernah berhenti berdenyut meski jantung ini berkali-kali diuji.

Don’t fix what’s not broken.

Jakarta, Sabtu Dini Hari, 28 Maret 2026
Menjelang Empat Puluh Tiga Tahun

Dituturkan Oleh:
Srihandriatmo Malau (Pak Deus)



SINOPSIS

"Tuhan, di mana terang-Mu?"

Pertanyaan itu membayangi ziarah panjang Srihandriatmo Malau. Mulai dari keheningan biara di Jawa hingga hiruk-pikuk Jakarta yang gersang, ia mencari makna imamat yang sesungguhnya. Namun, jawaban itu tidak ia temukan dalam jubah yang rapi atau altar yang megah, melainkan dalam tarikan napas yang tersengal di kursi ambulans dan derit mesin jantung di ruang ICU.

Karya ini adalah refleksi jujur tentang seorang pria yang harus bertaruh nyawa di jantung ibu kota demi sebuah tanggung jawab. Tentang seorang istri yang menyeka air mata dalam diam agar suaminya tetap tegar, dan tentang seorang ibu—yang meski tak lulus Sekolah Dasar—menjadi altar pertama tempat iman yang paling murni dirayakan.

Di balik dinding kontrakan yang sempit, di tengah ring jantung yang terus diuji, ia akhirnya menemukan bahwa mujizat terbesar bukan hanya tentang bertahan hidup, melainkan tentang mencintai mereka yang menjadi alasan untuk terus pulang.

Sebuah sakramen kehidupan bagi mereka yang sedang mencari cahaya di tengah kegelapan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malau Raja atau Silau Raja???

Kata Seorang Pria Tua Berusia 70 Tahun: Jangan Ulangi Kesalahanku

siapa yg tertua antara Lubis dgn Pasaribu?/