Ketika Doa Menjadi Cara Hidup
Di bawah rindang pohon Tugu Tani, seorang penjual es teh mengajarkan arti menjadi manusia
Foto Ilustrasi dari Chat CPT
Perjalanan dari Pondok Gede menuju Tugu Tani pagi itu sebenarnya tak ada bedanya dengan hari-hari lain di Ibu Kota: bising, tergesa-gesa, dan dipenuhi gundah yang bersembunyi di balik wajah-wajah kaku para pelaju. Jakarta sering kali terasa seperti mesin raksasa yang menuntut kita terus bergerak tanpa sempat mengeja rasa. Namun, kota ini selalu punya cara rahasia untuk menjatuhkan berkat-Nya justru di sudut-sudut yang paling tak terduga.
Di bawah rindangnya pohon besar dekat Tugu Tani, saya memutuskan memarkir motor dan menepi sejenak demi memburu sedikit jeda. Di sanalah saya menemukan sebuah oase ringkas—sebuah sepeda tua yang sarat dengan rencengan kopi, teh, dan bubuk minuman instan.
Pemiliknya bernama Pakde Broto. Di usianya yang telah menyentuh 65 tahun, lelaki asal Malang Selatan ini menolak takluk pada jarak berkilo-kilometer yang harus dikayuhnya setiap hari demi menjemput rezeki. Belum sempat saya memesan, kehadirannya sudah lebih dulu membelah kepenatan pagi dengan sapaan yang begitu lepas.
"Hola, selamat pagi Mas, Mba! Semangat dan bahagia sepanjang hari ini kita berjualan, karena Tuhan akan membagikan banyak rezeki buat kita hari ini!" serunya kepada rekan-rekan sesama pedagang yang sudah lebih dahulu menggelar lapak di sekitar sana.
Suaranya renyah, senyumnya tulus tanpa sekat. Di tengah kota yang sering kali lupa cara menyapa, kehangatan Pakde Broto terasa seperti pelukan seorang sahabat lama.
"Terima kasih Pakde atas senyumnya pagi ini," sapa saya membuka percakapan, sembari mengamati jemarinya yang cekatan menyiapkan segelas es teh manis pesanan saya.
Sembari mengaduk es, ia melontarkan guyonan-guyonan ringan khas tongkrongan yang seketika mencairkan kekakuan di antara kami. Menatap binar matanya yang bersih, dada saya terusik oleh sebuah tanya. Mengapa lelaki tua ini tampak begitu ringan memanggul dunia?
"Seperti tidak sedang memiliki masalah dalam hidup, Pakde. Hidupnya dipenuhi semangat dan hal positif. Saya sedari tadi tidak melihat sisi keluhan atau beratnya beban layaknya manusia kebanyakan pada diri Pakde. Apa rahasianya?" tanya saya, menyuarakan rasa penasaran yang mungkin juga dirasakan oleh setiap orang yang sedang lelah berjuang.
Pakde Broto terkekeh pelan, seolah pertanyaan saya adalah sesuatu yang jenaka. Tatapannya kemudian menerawang jauh, menembus aspal jalanan yang mulai memanas, memutar kembali memori tiga puluh tahun perjalanannya bertaruh nasib di Jakarta.
"Tak mungkin saya tidak punya masalah dalam hidup ini, Mas," ujarnya lirih namun mantap. "Sudah tidak tahu berapa banyak jenis pekerjaan yang saya lakoni di Jakarta ini. Menahan rindu yang menguliti hati dengan keluarga di Malang Selatan. Dulu belum ada handphone. Jangankan video call seperti sekarang, mendengar suaranya saja harus menunggu berbulan-bulan, bahkan tahun."
Ia berkisah tentang masa-masa pekat ketika penghasilan tak seberapa, bahkan tak jarang tangannya harus pulang dalam keadaan kosong tanpa sepeser pun uang. Namun, di titik nadir itulah ia menemukan jangkar hidupnya.
"Semua saya bawa dalam doa. Saya tidak pernah mengumpat atau mengeluhkannya sama Tuhan. Tapi tanggung jawab harus tetap saya perjuangkan. Tiap bulan saya harus kirim uang buat mereka di kampung. Kalau orang tua dulu bilang 'kencangkan ikat pinggangmu biar sukses,' itu sangat ketat saya lakoni dalam hidup ini. Nafsu makan dan kesenangan pribadi saya rem dalam-dalam, yang penting dapur di kampung ngebul dan anak-anak bisa sekolah."
Tantangan hidupnya tak mengecil; ketika anak-anak mulai beranjak dewasa dan menuntut biaya kuliah yang membumbung tinggi, beban di pundaknya makin menanjak. Namun, Pakde Broto tidak mundur selangkah pun. Ia memegang satu hukum alam yang sederhana namun mutlak: hukum tabur-tuai kebaikan.
"Ya kita hidup baik saja dengan orang, Mas. Gak pernah menyakiti, mengumpat, atau mendoakan yang jelek-jelek. Jadi, selalu ada saja rezeki kebaikan dari apa yang saya tabur. Alhamdulillah... dari sepeda tua ini, tiga anak saya bisa jadi sarjana. Yang nomor dua lulusan STM, tapi sekarang terbilang berhasil bekerja di bidang teknologi di Jepang. Dua anak saya di Eropa dan Jepang, dua lagi di Surabaya dan Semarang. Mereka semua sudah berkeluarga dan membuat saya bangga."
Ia buru-buru mengibaskan tangan, seolah takut kalimatnya mencederai kerendahan hatinya.
"Saya bukan mau memamerkan yang baik-baiknya atau melebih-lebihkan, tapi itulah jalannya hidup. Ketika kebaikan yang kita tanam, dan tidak pernah keluar dari mulut kita doa-doa jelek hingga sumpah serapah kepada orang lain, kemudahan dan rezeki akan dilimpahkan semuanya kepada kita. Memang saya tidak kaya raya, tapi paling tidak, tanggung jawab saya sebagai orang tua terbilang membuat saya boleh bersyukur pada Tuhan."
'Setrum' Energi Positif
"Itu benar sekali, Mas," sebuah suara tiba-tiba menimpali dari samping.
Seorang petugas sekuriti hotel bertubuh tegap datang mendekat, ikut nimbrung dalam lingkaran kehangatan tersebut sambil memesan kopi hangat. Ia adalah Mas Didik, yang rupanya sudah lama menjadi pelanggan setia energi positif Pakde Broto sebelum memulai sif kerjanya.
"Pakde ini setiap berjumpa selalu begitu, Mas. Tutur kata pertamanya pasti doa baik buat kita. Bahkan setelah kita membayar, ia selalu mendoakan agar kita dilimpahkan rezeki dan kesehatan sepanjang hari. Auranya selalu positif, energinya seperti 'setrum' yang membuat baterai hidup kita yang sudah lowbat dicas kembali sampai penuh. Ini bukan pujian karena ada orangnya ya, tapi Mas bisa tanya dan buktikan sendiri ke orang-orang di sekitar sini," kata Mas Didik dengan mata berbinar.
Sembari menyerahkan segelas kopi hitam pesanan Mas Didik, Pakde Broto tersenyum bijak, menggumamkan kalimat yang seketika meruntuhkan segala keangkuhan ego kemাржиুsiaan kita.
"Kita bukan siapa-siapa untuk berbangga, Mas. Memang kodrat orang hidup itu harus demikian. Berbagi kasih, kebaikan, kebahagiaan, meneguhkan dan menguatkan, serta mendoakan yang terbaik kepada sesama kita. Kalau bukan kita, siapa lagi?"
Tepat setelah kalimat itu terucap, seolah mengamini kebenaran ucapannya, sebuah teriakan nyaring terdengar dari seberang jalan yang ramai. Seorang remaja putri yang tengah berjalan kaki tergesa-gesa menuju arah Cikini melambaikan tangannya dengan ceria.
"Pakde, jangan lupa doakan saya hari ini ya!" teriaknya membelah bising klakson.
"Amin Mba! Doakan Pakde juga ya. Nanti kalau sudah pulang kuliah, mampir kesini ya?" balas Pakde Broto penuh semangat, membuat gadis itu tersenyum lebar sebelum hilang di belokan jalan.
Belajar Mengingat Rasa
Matahari merangkak makin tinggi, menyengat kulit. Saya melirik jam di ponsel yang kini telah menunjukkan pukul 08.34 WIB. Sudah waktunya saya melanjutkan perjalanan menuju salah satu hotel yang tak jauh dari Monumen Patung Tugu Tani untuk mengikuti acara pemberian penghargaan.
Sebuah kontras yang mengusik batin saya: di dalam gedung sana, acara formal sedang berlangsung dengan segudang pencapaian dan apresiasi yang megah. Sementara di luar sini, di bawah naungan pohon rindang, saya justru menemukan pelajaran hidup yang sesungguhnya tentang keikhlasan dan rasa syukur dari seorang penjual es teh yang bersahaja.
"Terima kasih banyak Pakde atas perjumpaan dan pelajaran yang sangat berharga pagi ini. Semoga Pakde sehat-sehat selalu, ditambahkan rezeki dan umurnya. Semoga di lain hari ada waktu lagi bagi saya untuk menikmati manis dan segarnya es teh manis Pakde, sekaligus mendapatkan 'setrum' agar baterai hidup saya kembali penuh. Matursuwon sanget, Pakde," ucap saya tulus sambil mengulurkan tangan berpamitan.
Pakde Broto menyambut uluran tangan saya. Genggamannya hangat, erat, dan mantap. Tatapan matanya mendadak berubah sangat teduh, menyalurkan ketulusan murni yang membuat dada saya bergetar ketika ia menyampaikan kata-kata dan melafalkan doanya untuk saya:
"Mas, terima kasih sudah berbagi rezeki dan membuat saya mengawali hari ini dengan hal-hal kebaikan dan berbagi pahala untuk hidup kita. Saya doakan Masnya ditambahkan rezekinya, bahagianya dalam hidup, semuanya dimudahkan Tuhan. Keluarga dan anak-anak diberikan sukacita berlimpah dan masa depannya berhasil. Masnya juga saya doakan diberikan kesembuhan agar kesehatannya prima selalu. Bahagia selalu, Mas, dalam mengarungi hidupmu ya. Tuhan melimpahkan banyak kebaikan buatmu hari ini..."
Setelah menghabiskan es teh manis yang menyegarkan itu, saya kembali menyalakan mesin motor. Setang saya genggam, lalu motor pun melaju perlahan membelah sisa pagi, meninggalkan sudut Tugu Tani dengan sebuah ruang di dada yang mendadak penuh oleh keharuan.
Pakde Broto mungkin tidak memiliki panggung megah untuk mengubah dunia. Namun, lewat ucapan baik yang ia tebar di sepanjang jalanan aspal, ia telah menyembuhkan banyak jiwa yang lelah oleh kerasnya kehidupan.
Sebab pada akhirnya, menjadi manusia seutuhnya bukanlah tentang seberapa banyak hal yang berhasil kita kumpulkan untuk diri sendiri, melainkan seberapa tulus kita bersedia menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Rabu (24/6/2026) pukul 23.12 WIB

Komentar