SERI KISAH PARA KUDUS
SANTO AGUSTINUS DARI HIPPO
354–430 | Uskup dan Pujangga Gereja
Santo Agustinus lahir di Tagaste, Afrika Utara, pada 13 November 354. Ibundanya, Santa Monika, membesarkannya dalam iman Kristiani dan tak pernah berhenti mendoakannya, bahkan ketika Agustinus menempuh jalan hidup yang menjauhkannya dari iman.
Agustinus menghabiskan bertahun-tahun mencari kebenaran melalui filsafat dan berbagai pemikiran. Di Milan, khotbah Santo Ambrosius membantunya memahami Kitab Suci. Pada 386, ia mengalami pertobatan dan kemudian dibaptis pada 387.
Doa dan air mata Santa Monika menjadi bagian penting dari perjalanan panjang tersebut. Agustinus kemudian menjadi imam pada 391 dan Uskup Hippo pada 395. Ia mengabdikan hidupnya untuk melayani umat dan mewariskan pemikiran yang memperkaya Gereja. Ia wafat pada 28 Agustus 430.
PESAN SANG KUDUS
“Fecisti nos ad te, et inquietum est cor nostrum donec requiescat in te.”
“Engkau telah menciptakan kami bagi-Mu, dan hati kami gelisah sampai beristirahat dalam Engkau.”
— Santo Agustinus, Confessiones, I, 1
Kita bangun pagi, mengejar pekerjaan, memenuhi kebutuhan keluarga, memikirkan masa depan, dan berusaha menjadi cukup baik di mata orang lain. Kita ingin berhasil, ingin dihargai, ingin membahagiakan keluarga. Namun, ketika hari berakhir dan semuanya menjadi sunyi, terkadang masih ada kegelisahan yang tak mampu kita jelaskan.
Kisah Santo Agustinus mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: di tengah semua yang sedang kita kejar, apakah kita masih menyediakan tempat bagi Tuhan dalam hidup kita?
Sebab, tidak semua kegelisahan dapat disembuhkan dengan pencapaian. Tidak semua kekosongan dapat diisi dengan harta atau pujian. Ada kerinduan terdalam dalam diri manusia yang hanya dapat menemukan kepenuhannya ketika kita kembali mendekat kepada Tuhan.
Perjalanan Agustinus juga mengingatkan kita pada Santa Monika: seorang ibu yang terus berdoa ketika perubahan belum terlihat.
Ia mengajarkan bahwa kasih tidak mudah menyerah, bahwa doa tetap memiliki tempat ketika kata-kata tak lagi cukup, dan bahwa kita dapat menyerahkan orang-orang yang kita kasihi ke dalam tangan Tuhan tanpa berhenti mengasihi mereka.
Mungkin hari ini kita belum memiliki semua jawaban. Mungkin ada kesalahan yang kita sesali, doa yang belum terjawab, atau beban yang kita simpan sendirian. Namun, kita tidak harus menunggu hidup menjadi sempurna untuk kembali kepada Tuhan. Kita dapat memulainya sekarang—dengan hati yang jujur, doa yang sederhana, dan keberanian untuk memperbaiki diri.(*/)

Komentar