Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Sesudah Ayam Berkokok: Dari Air Mata ke Batu Karang

Gambar
Renungan Minggu 22 Februari 2026 – Pesta Takhta Santo Petrus Caption Foto: Penyesalan dan Mengakuinya kepada Tuhan (Sumber: Ai Chat GPT) Hari ini Gereja mengenang Santo Petrus. Seorang murid yang pernah begitu yakin. Seorang sahabat yang pernah berkata siap mati bagi Yesus. Namun beberapa jam kemudian, di dekat api unggun kecil, ia berkata, “Aku tidak mengenal Dia.” Api itu tetap menyala. Tetapi hati Petrus padam. Ketika ayam berkokok, ia sadar. Kata-kata itu sudah terucap. Waktu tidak bisa ditarik kembali. Ia keluar… dan menangis. Bukan tangisan kecil. Itu tangisan orang yang tahu: semuanya sudah terjadi. Seperti pepatah kita — nasi sudah menjadi bubur. Mungkin ada ayah yang membaca ini dan teringat satu malam — ketika ia membentak anaknya terlalu keras. Anaknya diam. Sejak malam itu, ia tidak lagi banyak bercerita. Meja makan masih ada. Kursi masih lengkap. Tetapi suasananya tidak lagi sama. Nasi sudah menjadi bubur. Mungkin ada ibu yang diam-diam merasa gagal. Merasa kurang sabar. M...

“Kek Mananya Nanti Tangismu, Anakku?”

Gambar
Nasi Sudah Jadi Bubur — Penyesalan Seorang Anak kepada Ibu “Kek Mananya Nanti Tangismu, Anakku?” (Refleksi Injil Markus 7:14-23)  (Foto: ILUSTRASI PENYESALAN DAN DATANG KEPADA TUHAN, Chat GPT) Malam yang Tidak Akan Saya Lupakan   Malam itu sunyi. Lewat tengah malam, suara mamak terdengar pelan dari kamar sebelah. “...Tolong antar mamak ke kamar mandi.” Sejak sarafnya terjepit, mamak tidak bisa berjalan sendiri. Kakinya harus dituntun. Tangannya harus disangga. Bahkan untuk sekadar ke toilet pun ia tak lagi mampu tanpa bantuan. Kami sudah memasangkan pampers agar ia tidak perlu repot malam hari. Itu alasan kami. Demi kenyamanan. Demi kesehatan. Demi istirahat. Saya dan istri saling berpandangan dalam gelap. “Kan sudah pakai pampers, Mak… nggak usah ke kamar mandi. Nanti saja pagi,” jawab saya. Ia memanggil lagi, lebih pelan. “Tapi mamak mau ke kamar mandi…” Nada itu bukan memaksa. Hanya suara seorang ibu yang masih ingin menjaga sedikit martabatnya. Namun saya tetap berkata, “S...

Ada Dia di Antara Kita - Kisah Cinta & Panggilan Tuhan

Gambar
  Ada Dia di Antara Kita  - Kisah Cinta & Panggilan Tuhan Ketika cinta harus berhenti, bukan karena habis, tetapi karena Tuhan memanggil lebih dulu menjadi gembala umat   (Foto:  Ilustrasi gereja dan bangku kosong, melambangkan keheningan cinta dan panggilan iman dalam kisah Ada Dia di Antara Kita . (Ilustrasi: AI Gemini) Undangan itu datang sederhana. Tidak panjang, tidak pula menjelaskan banyak hal. Hanya ajakan untuk hadir pada sebuah acara yang kau sebut penting. Namamu tertera sebagai pengirimnya—nama yang dulu paling sering kupanggil tanpa ragu, lalu perlahan kupelajari untuk kusebut dengan hati-hati. Aku membaca pesan itu berulang kali. Tidak bertanya lebih jauh. Ada firasat yang enggan diberi nama. Malam pun turun, dan seperti biasa, aku membiarkan diriku sendiri, demi membuang rasa rindu yang selalu menggoda bila sunyi datang tanpa permisi. Di saat-saat sepi begini, bayangan wajahmu tak pernah benar-benar pergi. Undangan itu melompatkanku ke ma...