“Kek Mananya Nanti Tangismu, Anakku?”
Nasi Sudah Jadi Bubur — Penyesalan Seorang Anak kepada Ibu
“Kek Mananya Nanti Tangismu, Anakku?”
(Refleksi Injil Markus 7:14-23)
(Foto: ILUSTRASI PENYESALAN DAN DATANG KEPADA TUHAN, Chat GPT)
Malam yang Tidak Akan Saya Lupakan
Malam itu sunyi.
Lewat tengah malam, suara mamak terdengar pelan dari kamar sebelah.
“...Tolong antar mamak ke kamar mandi.”
Sejak sarafnya terjepit, mamak tidak bisa berjalan sendiri. Kakinya harus dituntun. Tangannya harus disangga. Bahkan untuk sekadar ke toilet pun ia tak lagi mampu tanpa bantuan.
Kami sudah memasangkan pampers agar ia tidak perlu repot malam hari. Itu alasan kami. Demi kenyamanan. Demi kesehatan. Demi istirahat.
Saya dan istri saling berpandangan dalam gelap.
“Kan sudah pakai pampers, Mak… nggak usah ke kamar mandi. Nanti saja pagi,” jawab saya.
Ia memanggil lagi, lebih pelan.
“Tapi mamak mau ke kamar mandi…”
Nada itu bukan memaksa. Hanya suara seorang ibu yang masih ingin menjaga sedikit martabatnya.
Namun saya tetap berkata,
“Sudah, Mak. Tidak apa-apa. Pakai saja pampersnya. Biar kami juga bisa istirahat.”
Hening.
Beberapa detik yang panjang.
Lalu tidak ada suara lagi.
Ia terdiam. Seakan mengalah.
Dan kami kembali tidur.
Pagi harinya, ketika saya membuka pintu kamarnya, bau itu lebih dulu menyambut saya.
Seprai basah. Pakaiannya lembap. Tubuhnya sedikit menggigil. Rambutnya kusut di bantal.
Ia menatap saya dan berkata pelan,
“Maaf ya… mamak nggak kuat.”
Kalimat itu seperti merobek dada saya.
Maaf?
Seharusnya saya yang meminta maaf.
Saat saya membersihkan tubuhnya, mengganti pakaiannya, dan menuntunnya duduk perlahan, hati saya terasa jauh lebih kotor daripada seprai yang basah itu.
Dan Sabda Tuhan hari itu menggema dalam batin saya:
“Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.
Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, tipu daya, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”
(Markus 7:20-23)
Saya tidak membentaknya.
Saya tidak memarahinya.
Tetapi malam itu, dari dalam hati saya keluar kebebalan.
“Kek Mananya Nanti Tangismu, Anakku?”
Tiba-tiba saya teringat sesuatu.
Setiap kali saya memandikan mamak — mengusap punggungnya perlahan, menyabuni rambutnya yang mulai memutih — ia sering tersenyum dan berkata:
“Kek mananya nanti tangismu, anakku, jika aku menutup mata?”
Kadang setelah mandi, kami duduk berdua menikmati lagu-lagu Batak lama di YouTube. Ia ikut bersenandung pelan. Wajahnya damai. Kadang matanya berkaca-kaca.
Kalimat itu sering ia ucapkan di saat-saat hangat seperti itu.
Dulu saya menganggapnya gurauan lembut seorang ibu.
Namun pagi itu, kalimat itu berubah menjadi pertanyaan yang mengguncang.
Bagaimana nanti tangisku…
jika kesempatan kecil seperti ini saja aku lewatkan?
Kasih Tidak Selalu Masuk Akal
Saya mencoba membenarkan diri: saya lelah, saya butuh istirahat, kami sudah menyiapkan pampers. Semua terdengar masuk akal.
Namun kasih tidak selalu dihitung dengan logika.
Kasih bangun.
Kasih berjalan.
Kasih menuntun.
Saya teringat masa kecil.
Berapa kali saya mengompol di malam hari?
Berapa kali mamak terbangun tanpa mengeluh?
Berapa kali ia membersihkan tubuh kecil saya tanpa berkata, “Pakai saja kain itu, jangan ganggu tidurku”?
Ia tidak pernah menimbang kenyamanan.
Dan saya, hanya diminta bangun sebentar.
Di Hadapan Salib
Di hadapan salib, saya merasa kecil.
Yesus tidak turun dari salib karena lelah.
Ia tidak berkata, “Cukup sampai di sini.”
Di kayu salib Ia berseru,
“Sudah selesai.” (Yohanes 19:30)
Ia bertahan dalam kasih sampai akhir.
Perintah Tuhan jelas:
“Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.”
(Efesus 6:2-3)
Menghormati bukan hanya berbicara lembut.
Menghormati adalah kesiapsediaan hati.
Pagi itu saya belajar bahwa dosa tidak selalu berbentuk teriakan. Kadang ia hadir dalam kesempatan berbuat kasih yang kita lewatkan.
Ketika Nasi Sudah Jadi Bubur
Mamak memaafkan saya. Saya tahu itu. Ia selalu begitu.
Tetapi pertanyaannya kini berbalik kepada saya:
Apakah saya sudah cukup mencintai?
Apakah hati saya masih lembut?
Apakah tangis saya kelak akan lahir dari cinta… atau dari penyesalan?
“Nasi sudah jadi bubur.”
Malam itu tidak bisa saya ubah.
Tetapi hari ini masih bisa saya pilih.
Sejak pagi itu, setiap kali mamak memanggil, saya berusaha bangun. Bukan karena takut merasa bersalah lagi. Tetapi karena saya tidak ingin suatu hari berdiri di depan liang lahatnya dengan hati penuh “andai”.
Jika Anda masih memiliki orangtua, dengarkanlah suara kecil mereka. Bahkan di tengah malam. Bahkan ketika Anda lelah.
Karena suatu hari, suara itu mungkin tidak terdengar lagi.
Dan ketika saat itu tiba, kita akan mengerti betapa berharganya panggilan sederhana itu:
“Tolong antar mamak ke kamar mandi.”
Semoga saat hari itu datang, tangis kita bukan karena kita terlambat mencintai —
melainkan karena kita bersyukur pernah diberi kesempatan untuk melayani.
Karena ketika nasi sudah menjadi bubur,
yang tersisa hanyalah kenangan.
Dan semoga kenangan itu adalah kasih.
Pondok Gede, 11 Februari 2026
#RenunganHarianKatolik
#InjilHariIni
#Markus7
#TentangIbu
#HormatiOrangtua
#RefleksiKristiani
#NasiSudahJadiBubu

Komentar